Mr. KEMAS M SALEH

Mr. KEMAS M SALEH

SMP NEGERI 1 WERU CIREBON

SMP NEGERI 1 WERU CIREBON

Tentang Aku

CIREBON, JAWA BARAT, Indonesia
Web ini dibuat oleh: Kemas Muhamad Saleh,Aku adalah seorang pengajar di sebuah sekolah Pinggiran nun jauh dari keramaian kota, Aku mengajarkan kepada semua siswa untuk tetap berfikir bebas, kritis, dan maju. Aku sekarang sedang menyelesaikan pendidikan di Universitas Pakuan Program Pascasarjana dengan mengambil konsentrasi Manajemen Pendidikan (maaf bukan pamer).Terima kasih buat teman-teman seperjuanganku yang terus memberikan suport(maaf tidak dapat Aku sebut satu persatu). Terima kasih Sekolahku tempat Aku mengajar yaitu SMP N 1 Weru yang kata orang sih Sekolah Standar Nasional, dan tak lupa Aku ucapkan kepada Bapak Sunarto S.Pd selaku Kepala Sekolah yang telah membimbingku dari segala kerisauan dan kegalauan. dan tak lupa buat Istri tercintaku Kartini yang setia mendampingiku, tak lupa anak-anakku yang manis RIFAH,dan HANNAH yang memberikan api semangat untuk menghadapi kehidupanku...... Terima kasih ALLAH SWT, Terima kasih Nabiku, panutanku MUHAMMAD SAW. serta ABAHKU, Almarhum IBUKU....... semoga amal serta ketulusan dalam mendidik dapat menaungi jagad raya ini .......

Monday, May 28, 2007

Smart Teacher, Koneksi Internet untuk Laboratorium Hasil Kloning

OLEH: SYAHRUDDIN SETIADI
DetikInet; 25/07/2006

Smart Teacher, Cerita ini berawal ketika tiga tahun lalu saya mulai bekerja sebagai seorang staf pengajar alias guru komputer atau dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru teknologi informasi & komunikasi (TIK) pada sebuah SMP Islam Terpadu di kawasan Bekasi. Sebuah sekolah yang notabene cukup ternama dan terpandang di Bekasi.Namun sebagaimana sekolah lain yang juga sama-sama sedang berkembang fasilitas sarana belajar yang dimiliki boleh dibilang belum memadai. Sesungguhnya komentar tersebut telontar dari sudut pandang seorang guru komputer baru, yang harus mengajar dengan tiga buah komputer Pentium 1 second di ruangan yang sedikit berdebu karena sudah lama tidak aktif. Sebenarnya ada sepuluh unit komputer Pentium 1 second berbagai merk beserta monitor dan meja komputer desain sendiri, namun dari sepuluh unit tersebut hanya tiga unit yang dapat berfungsi dengan baik, sisanya harus menempuh proses "kanibal" untuk dapat kembali "hidup".Pekerjaan pertama saya sebagai guru baru adalah membuat "hidup" tujuh unit komputer yang sedang "mati suri". Akhirnya dengan bekal pelatihan merakit komputer sewaktu masih kuliah, Alhamdulillah berhasil menghidupkan empat unit komputer, sedangkan tiga unit lainnya terpaksa jadi barang rongsokan. Untuk dapat mengajar dengan baik, sementara ini dibutuhkan tiga unit lagi untuk menggenapkannya menjadi sepuluh unit, karena rata-rata jumlah siswa per kelas adalah tiga puluh orang siswa, jadi paling tidak satu unit komputer dapat dipakai tiga orang siswa. Tiga unit kekurangannya saya minta dilengkapi supaya proses belajar mengajar dapat berjalan dengan "nyaman". Tanpa menunggu waktu yang lama Pentium 1 second sebanyak tiga buah akhirnya melengkapi laboratorium komputer saya. Oh, ya. Saya bangga juga sekarang sudah punya ruangan yang bisa disebut sebagai laboratorium walau sedikit berdebu karena tanpa AC juga karena jarang dibersihkan oleh bagian kebersihan. Tahun pertama mengajar, ya menggunakan sepuluh unit komputer yang stand alone itu. Sebuah kesulitan tersendiri karena banyak siswa yang cukup antusias dengan teknologi komputer sementara sarana terbatas. Yang melengkapi kesulitannya adalah, rata-rata siswa memiliki komputer setara Pentium 4 di rumahnya, sehingga muncul suara riuh saat mengajar manakala komputer mulai "lemot". "Pak, Pak, gimana nih, kok lambat sih..." "Ngelek nih..." celetuk mereka. Wuih, berat juga rasanya mengajar dengan kondisi seperti itu, sendiri pula. Bolak-balik kesana kemari. "Pak, Pak... kalo ini caranya, gimana... Pak, Pak... seperti ini betul kan ? Pak, Pak, ke sini dong, ajarin, nggak tau nih, kok bisa begini sih..." Muncul pikiran dalam benak bahwa kondisi seperti ini tidak boleh terus berlanjut, tapi mau gimana? Hingga suatu saat terlintas sebuah ide, "PC Cloning". Sebuah teknologi yang kurang familiar bagi sebagian orang, tapi mungkin bisa jadi solusi. PC Cloning adalah membuat komputer menjadi lebih "ngebut" dengan dibantu sebuah server sebagai induknya. Pentium 1 bisa jadi secepat Pentium 4 jika induknya Pentium 4. Kalo tidak salah, katanya sih begitu, tapi siapa yang bisa ya? Berapa biayanya? Sebagai ilustrasi tambahan, harga 1 unit komputer Pentium 4 adalah sekitar Rp. 5 juta, 10 unit berarti Rp 50 juta, wow banyak juga. Kalo di Cloning, harga 1 unit "server-serveran" sekitar Rp. 7 juta, instalasi dll sekitar Rp. 3 juta, total 10 juta berarti bisa hemat 40 juta, wow bisa buat beli rumah tipe 21 nih. Hitungan sederhana, tapi mudah-mudahan tidak jauh meleset dari perkiraan.Berbekal koneksi kenalan dan teman-teman yang mengerti komputer, mulailah saya mencari informasi tentang PC Cloning dan ahlinya. Sampai akhirnya dipertemukan dengan seorang alumni dari STM tempat saya sekolah dulu. Ternyata berbekal lulus STM (STM favorit di Rawamangun), dia katanya mampu belajar mandiri secara otodidak dalam mempelajari PC Cloning, luar biasa. Mulailah saya berkonsultasi dan berdiskusi tentang ide dan realisasinya. Ternyata semua bisa diatur, tidak ada masalah dan yang tidak kalah luar biasa biayanya tidak jauh meleset dari perkiraan. Tanpa banyak pertimbangan, saya mulai membuat rancangan proposal pengajuan dana tentang PC Cloning. Tidak lupa saya jelaskan kelebihan dan perbandingan, untuk memperkuat analisa ilmiah dalam isi proposal. Tanpa banyak pertimbangan pula ternyata proposal saya disetujui karena memang argumen dan analisanya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah. Pekerjaan "menyulap" Pentium 1 jadi Pentium 4 pun dimulai. Belanja "server" Pentium 4, kabel UTP + connector RJ45, Switch, LAN Card yang ada Boot ROM-nya, dan lain-lain. Dalam 3 hari instalasi hardware dan software, termasuk LAN PC Cloning bagian dari teknologi jaringan atau LAN semuanya rampung dan sudah dapat diuji coba.Dengan perasaan dag dig dug, harap-harap cemas bercampur senang, akhirnya komputer lawas dan berdebu, Pentium 1 second 166 Mhz dengan RAM 32 tanpa harddisk setelah di "sulap" ternyata mampu menjalankan Windows Xp dengan segala software pelengkap tanpa banyak keluhan bisa "ngebut". Luar biasa, Alhamdulillah.Sementara itu, ketika saya mulai menikmati ide yang mudah-mudahan bisa jadi inspirasi "cemerlang" -menurut saya- karena muncul sebuah fenomena di kalangan guru komputer/TIK. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa bermaksud merendahkan teman-teman guru, ternyata sebagian dari guru komputer teman-teman saya banyak yang tidak mengetahui tentang teori/praktek LAN apalagi PC Cloning. Selain itu, tidak sedikit yang belum menguasai seluk beluk hardware komputer. Mungkin wajar, semua itu kembali kepada sarana dan prasarana pendukung pada saat belajar TI dulu. Solusinya adalah "belajar lagi" dengan guru-guru komputer yang memang menguasai materi LAN maupun hardware.Saya dan teman-teman guru komputer memiliki wadah -sama seperti mata pelajaran lain- untuk bisa berdiskusi, berbagi pengalaman dan membuat program peningkatan mutu pendidikan, yaitu MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Dalam wadah itulah kami berusaha berbagi ilmu tentang TI dan saling melengkapi. Salah satu programnya adalah pelatihan LAN dan hardware bagi guru-guru komputer yang belum atau kurang menguasainya.Tahun kedua mengajar, segalanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Berbagai kemudahan ditemui dengan menggunakan PC Cloning. Mulai dari komputer Pentium 1 yang tidak lagi lambat, dapat nge-print langsung karena semua komputer terhubung dalam satu jaringan, dapat berbagi file, dapat berkomunikasi dengan komputer lain, hingga -saya pribadi- dapat belajar membangun situs sederhana dan mengujicobakan dalam jaringan lokal. Subhanallah... Waktu terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, walaupun KBK sekarang sudah tidak diberlakukan, memuat materi yang menurut saya menjadi beban bagi guru maupun pihak sekolah. Materi tersebut adalah internet yang harus diberikan/diajarkan di kelas 9.Internet dipandang menjadi beban karena 2 hal; Pertama belum menjadi konsumsi yang umum dimasyarakat dan hanya dikonsumsi oleh kalangan yang terbatas termasuk gurunya. Kedua tidak diimbangi dengan fasilitas atau paling tidak diberikan kemudahan untuk menyediakan fasilitas internet untuk sekolah. Dua hal di atas menjadi kendala yang menyebabkan materi tersebut sulit untuk disampaikan secara ideal. Salah satu solusi adalah dengan mengajarkannya secara offline dengan segala keterbatasannya. Namun untuk memberikan serta mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan hal tersebut, internet cepat atau lambat menjadi sebuah keharusan dan menjadi bagian dari sistem pendidikan. Melihat tuntutan kurikulum dan perkembangan teknologi komunikasi disertai tanggung jawab sebagai seorang guru komputer/TIK, saya tidak bisa tinggal diam dengan situasi yang tengah terjadi. Maka mulailah saya mencari informasi sebanyak-banyaknya, seperti dahulu mencari informasi PC Cloning, mengenai internet, ISP, instalasi, layanan, tarif, kelebihan, manfaat dan sebagainya. Dengan modal Rp. 4.000 cukuplah untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan di warnet.Dengan informasi yang diperoleh saya akhirnya memutuskan untuk kembali mengajukan permohonan agar pihak sekolah menyediakan koneksi internet guna keberlangsungan proses belajar mengajar -komputer/TIK- yang ideal. Asumsi awal yang dibangun terhadap pihak sekolah adalah bahwa hal tersebut tidak akan merugikan secara materi pihak sekolah.Kenapa bisa demikian? Karena selain untuk belajar koneksi internet juga dimanfaatkan sebagai warnet pada jam istirahat belajar. Pemasukan dari hasil warnet dapat menutupi biaya akses internet per bulannya walaupun cuma impas. Dengan asumsi awal tersebut pihak sekolah bersedia mengabulkan permohonan saya.Alumni STM yang sebelumnya saya ceritakanlah yang akhirnya kembali membantu saya untuk membuat Lab. Komputer saya sekarang untuk bisa terkoneksi dengan internet. Tugasnya adalah men-setting dan menginstalasi, sedangkan saya sebelumnya harus mengurus registrasi koneksi internet hingga selesai. Dari mulai registrasi hingga koneksi tersambung ke semua komputer hanya memakan waktu sepekan dan semuanya bisa langsung dimanfaatkan, karena sebelumnya sudah merupakan LAN (Local Area Network). Jadilah Lab. Komputer yang ada sekarang bertambah lengkap dengan koneksi internet. Alhamdulillah...Sebagai pelengkap informasi, hal-hal yang perlu diantisipasi dari awal adalah; Pertama, membatasi pemakaian, dalam hal ini download dan upload, karena berhubungan dengan biaya. Saya menggunakan layanan yang masih limited karena keterbatasan anggaran, kecuali jika mampu untuk menggunakan layanan unlimited.Kedua, menghitung tarif/biaya sewa agar dapat membayar biaya berlangganan setiap bulannya. Sekolah tempat saya mengajar menggunakan sistem full day school, dengan kata lain waktu yang dimiliki untuk menggunakan warnet pada jam istirahat sangat sedikit ditambah batasan pengguna yang boleh hanya kalangan internal sekolah. Sehingga harus benar-benar teliti dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran agar tidak rugi. Ketiga, harus ada filter terhadap alamat situs yang berdampak negatif terhadap pengguna. Singkat cerita, Lab. Komputer tempat saya bekerja sehari-hari kini telah berkembang jauh lebih baik dari pertama kali saya masuk ruangan tersebut. Kini Lab. Komputer sekolah yang saya kelola telah berubah menjadi ber-AC, berkarpet, bermeja komputer yang sangat bagus, berjumlah dua puluh unit Pentium 2, walaupun masih dengan teknologi PC Cloning, bermonitor baru, berserver dua unit, berprinter, berscanner, dan berinternet. Alhamdulillah.